“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘌𝘮𝘰𝘴𝘪” Tokoh Utama Dalam Lembaran Cerita SMA
Peran tokoh utama dalam skenario ceritamu mungkin hanya dirimu seorang diri, ujarku juga begitu dari dulu.
Di jendela kelas tiga bagi segilintir orang aku hanyalah pribadi yang cuek, misterius, dingin, dan tidak peduli. “D𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪”, dengan tangan yang selalu dilipat dalam sakunya, duduk di bagian ujung paling belakang dengan tangan yang disilangkan di mejanya hingga meninabobokanya dalam sunyi, “u𝘫𝘢𝘳𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 kecocokan 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘮𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘥𝘢 2,3 dan 4 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶”.
Untuk orang yang telah lama dihantui sepi dan sunyi, dialirkanya sedikit demi sedikit sebuah kasih yang hangat dari orang-orang di ruangan kecil itu, ada yang menawarkan bekalnya, ada yang menyuluhkan rokok kreteknya, ada yang menawarkan genggaman tangannya.
Dan sebuah cahaya secangkir demi cangkir mengalir ke dalam jiwaku, aku telah menemukan orang-orang dalam hidupku, di India “Namaste” merupakan sapaan yang sering dipakai seperti “Halo”. Tapi ada makna indah dari kata tersebut “Makhluk ilahi dalam diriku memberi salam kepada makhluk ilahi dalam dirimu”.
Pikirku orang bisa dicintai ketika dia berhasil mencapai tuntutan di dunia, tapi tidak begitu rupanya...
“setiap orang layak dicintai bahkan ketika dia dalam rahim ibu sekalipun”.
Hakikatnya dalam rana lingkup yang telah aku jalani, orang yang berbeda akan diasingkan karena dia tidak sama dengan orang lainya, dan itu sudah menjadi hal paten sampai sekarang, namun tidak dengan ruang hangat di jendela kelas tiga itu. semua laki" disana adalah petarung hebat dalam hidupnya ada yang tak lelah dalam mengejar kampus impianya, ada yang tak pernah mengucapkan kata letih disetiap waktunya kala menjemput ibu dan adik-adiknya, ada yang tak pernah berhasil dalam urusanya mengejar wanita (mohon maaf saya ketawa sedikit), ada yang gagal dalam percintaanya karena wanita yang dipujanya masih terikat dengan masa lalunya, dan ada yang tak pernah lelah hati dalam buruknya finansial yang dialami. Orang-orang punya cerita hebat dalam hidupnya, sedikit ruang yang mereka sisakan, sedikit hati yang mereka berikan, semua orang punya peran penting dalam dirinya begitupun dalam kehidupan orang lain, doa-doa dan cinta untuk kalian yang berjuang hingga saat ini.
Aku dengan segala kepribadianku merangkul semua yang ada dalam kelas itu, netral dan terbuka bagai seorang kakak yang mendengar keluh kesah adiknya dan menjahili adik-adiknya, beberapa orang mungkin menaruh perasaan padaku, alih-alih mencintai kembali semua orang yang menaruh perasaan itu, aku bukanlah orang yang impulsif dan gila wanita, kata orang-orang memahami wanita itu adalah perkara yang sulit, sebenarnya itu bukan hal yang sulit, pada dasarnya seorang wanita hanya perlu disayang, diberi perhatian, itulah alasan kenapa dia menjadi tulang rusuk kita, sebuah metafora dari interpretasi perubahan satu ke perubahan lainya, dimana tulang rusuk itu sebagai keterikatan hati satu dirangkul dari satu hati lainya oleh tulang punggung itu sendiri.
Kiranya dalam hidup ada beberapa orang yang sering memendam masalahnya sendiri, termasuk diriku.
Ada beberapa hal yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol di luar sana, namun seiring dengan waktu yang berjalan kita terlalu lama menyimpan rasa kecewa yang terlalu dalam daripada mengungkapkanya, dan dari kecewa itu membuat kita semakin murung dan depresi, alih-alih memendamnya coba untuk hujani hati kalian penuh dengan panah perhatian, kebahagiaan besar terletak ketika kita lebih memperhatikan diri sendiri, sesekali jadilah seperti anak kecil yang suka mencari perhatian, “lihat tanganku terluka” sedikit perhatian yang dibagikan kepada orang lain itu hal yang besar bagi kita, kiranya ketika kita menanam bibit pada orang lain itu akan menjadi sebuah manifestasi perubahan besar bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Peran utama dalam perjalanan batin bukanlah diriku seorang diri, kematangan sebuah emosi terbentuk dari hal-hal kecil terlebih dahulu, ketika kita menjadi pendengar orang-orang cenderung lebih memotong pembicaraan dan memberi saran terlebih dahulu, alih-alih memotongnya tempatkan dirimu bagai orang lain yang sedang terluka, orang cenderung lebih hanya ingin didengar daripada diberikan solusi yang terjadi saat itu. Dalam konseling ini dinamakan katarsis sebuah pelepasan emosi yang memuncak menunggu emosi dari itu merendah.
Aku lebih suka mendengarkan orang lain, karena dunia itu saling terhubung dan semuanya saling tergantung, banyaknya bisikan keresahan orang-orang dalam bercerita, semua itu hal yang wajar, semua orang mempunyai beban hati, dan ketika dewasa pun semua orang masih butuh perhatian, cobalah untuk menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lain, dan semoga masih ada mata penuh kasih dalam diri kita.
Ada beberapa wanita yang punya pengaruh besar dalam kematangan emosiku ;
Pertama: adalah wanita paling pintar, yang mengutamakan gengsinya dan mengesampingkan perasaanya, dia adalah wanita polos dan baik, segala hal dibuatnya dalam tangan kecilnya untuk sebuah kenangan pada cintanya, seorang wanita indah karena diamnya, dan dari lorong tangga itu dengan percaya diri terhadap langkah-langkahnya melewati diriku, tersimpan sebuah kata hati yang mana kegugupan tak henti menari dalam dirinya.
Kedua: adalah wanita yang taat beragama, dia dengan segala polosnya mengajari apa yang seharusnya diajarkan dariku pada awal salah satunya adalah membaca dari kitab yang diturunkan kepada kita sebagai petunjuk hidup dari manifestasi hidup kita sendiri.
Ketiga: adalah wanita yang cerawak, dia adalah wanita paling cantik di kelas, namun dari cantiknya dan kecintaanya pada hujan membuat dia lebih mengutamakan perasaanya seperti runtutan air yang jatuh di muka bumi, dan menangisinya hingga surut mata air itu dengan sendirinya, dari asumsi beberapa orang mungkin dia mengesampingkan logika, alih-alih memikirkan asumsi lebih baik jika asumsi itu dijadikan klasifikasi esensi dari hujan itu sendiri, menyucikan hati itu sendiri dan semendung-mendungnya awan hitam di atas sana akan kembali cerah setelah beban hati yang ditimpanya turun membumi.
Keempat: adalah wanita pemalu, sorot matanya yang membisikkan meminta sebuah waktu, pengertian, dan perhatian, hubungan yang cepat kandas bukan berarti satu pihak jatuh dalam ombak penasaran, melainkan ada fragmen penting dari suatu hubungan itu menyebabkanya renggang.
Hal yang lumrah dalam hidup ketika kita membuat kesalahan, tapi ada satu titik dimana satu pihak menyakiti satu sama lain secara tidak sengaja, pada dasarnya laki" hanya ingin dihargai, fundamental dari suatu hubungan adalah komunikasi, memang benar tapi itu akan berjalan sia-sia jika tidak ada equality dari pola pemahaman terhadap pasanganya, seorang laki-laki hanya ingin dihargai dan bukan semata mencari pengakuan diri. Ini dua persepsi yang berbeda bahwa perlu adanya reflection mind, pihak satu mendambakan obsesi, pihak satu kurang membuka diri. Kiranya dari kami ada yang menuntut lebih dari suatu ekspetasi yang berujung pada akhir itu sendiri.
Kelima: adalah wanita paling anggun di dalam sudut kelas yang hangat dirombak mentari itu, sebuah pengakuan terlepas dari belenggu rantai selama ini, dimana ketika seorang laki-laki terpuruk karena suatu keadaan dan banyak hal yang menimpanya, dalam hati kecilnya akan ada secercah ruang untuk menyisakan cerita berbagi hidupnya dengan orang lain dan dia datang bak cahaya mentari. Dalam pertemuan satu atau dua rindu sorot matanya menjelma bulan yang diterangi lampu-lampu jalanan. Bagi banyak lelaki disana mungkin yang hanya didefinisikan hanyalah parasnya, namun dariku lebih memperhatikan hal-hal kecil yang ada dalam dirinya. Cinta tumbuh dari manapun ia berada mau itu singkat atau lambat dalam ranahnya menjadi kehadiran berarti harus menerima resiko dari ketidakhadiran, aku tersadar bentuk cinta itu lebih kompleks dari apapun yang ada, cinta bukan perihal memiliki atau tidak, bentuk sejatinya itu lebih besar, dimana kamu sebagai laki-laki memiliki batasan dalam lawan jenismu, seorang laki-laki akan lebih cenderung jujur membuka diri jika dia menemukan hal yang penting baginya.
Dan bukanya perihal saling memiliki maupun tuntutan glorifikasi dari sebuah media sosial yang mengatasnamakan love language, gaya typing, starboy maupun punk boy, kodrat tertinggi laki-laki adalah membimbing. Ada sebuah alasan dari setiap pertemuan dan dari itu tertulis sebagaimana langkah kaki kita terekam semuanya (𝘭𝘢𝘶𝘧𝘶𝘭 𝘮𝘢𝘩𝘧𝘶𝘥𝘻), dari itu semua bisa disimpulkan manusia itu seperti pemanas, “Dia menghangatkan manusia lain”.
Beberapa orang adalah peranan penting bagi orang lain, hanya karena kamu berbeda bukan berarti tidak harus bahagia, semua orang punya cerita di lembar bukunya dan sosok sosok penting itulah yang membuat orang lebih mengenal diri sendiri, jati diri bukan hanya mengenal passion dan apa yang harus menerima dalam diri sendiri, melainkan merelakan, melepaskan, menghanyutkan semua rantai emosi yang membuat seorang invididu lebih bisa mencintai diri sendiri.
Orang pertama mengajarkan bahwa ketika ada hal yang diluar kontrol kita tidak bisa dikendalikan, alih-alih melihat dari masalalu cobalah untuk melakukan hal di masa kini yang membuatmu merasakan dirimu hidup, alih-alih mengejar suatu ketidakpastian, lebihlah melihat sekitarmu mungkin orang yang kamu doakan selama ini pernah lewat dan pergi begitu saja karena dirimu sibuk mengejar ketidakpastian itu. Orang kedua mengajarkan hidup bukan hanya untuk dunia semata, setiap langkah yang kau pijak haruslah diiringi dengan keterikatan dirimu sebagai hamba dengan Tuhan dan doa-doa yang dilangitkan. Orang ketiga memberikan kesan bahwa manusia terdiri dari logika dan emosi, dan kita harus lebih mematangkan emosi dan logika kita hingga hal yang terjadi bukanlah keputusan yang impulsif. Orang keempat mengajarkan bahwa peranan penting bagi seorang lelaki lebih mempertimbangkan perasaan dan logika, jika salah satu dari kita sendiri tidak jujur pada sendiri, kecewa yang terlalu lama dipendam akan lebih menuju kontradiksi dan bukan resistansi. Orang kelima mengajarkan bahwa kita tidak bisa menentukan situasi di luar sana, yang hanya kita bisa lakukan adalah mengontrol sikap dari situasi tersebut, dan dari itu semua jujur kepada diri sendiri, 21 tahun aku hidup tanpa bercerita masalahku kepada orang-orang dan lebih memilih diam dan kecewa, rantai yang membelenggu dari dulu yang selalu memendam perasaan mengalir begitu saja, sebuah keruntuhan iman yang terlalu lama runtuh kini kembali lagi.
Bentuk lebih dari kasih sayang bukan hanya ketika menaruh perhatian pada orang lain, namun lebih mempercayai individunya, membimbing individunya, dalam ranah lingkungan yang sekarang wanita akan dibiarkan permisif terhadap lawan jenisnya, namun jika itu dalam konsep parenting, kita bisa lebih mengenal batasan apa yang seharusnya dilakukan seorang laki-laki ketika ia bersama lawan jenisnya. Mencintai bukan berarti harus dalam posisi kekasih, bisa bentuk orang tua kepada anak-anaknya, maupun seorang kakak yang melindungi adik-adiknya.
Karena nilai dari seorang lelaki bukanlah tentang apa yang dia punya (materilistik), melainkan sebuah tanggung jawab dia kepada perkataan dan perbuatannya, seberapa jujur dia pada dirinya, dan batasan apa yang dia punya dalam interaksi dengan lawan jenisnya. Alih-alih menjadi bulan sabit untuk mengisi ruang kosong dalam diri kita, jadilah bulan purnama yang menyinari malam di setiap titik sudut gelapnya, jika kita menunggu seseorang untuk mengubah hidup kita, mungkin kita sendirilah yang harus menjadi orang itu.
Pikiran kita seperti awan,
Emosi kita bagaikan petir,
Tetapi langit akan selalu biru, cerah dan terang selama kita masih mengontrol kedua hal itu.
Setiap manusia mempunyai sesuatu yang mereka miliki sehingga orang lain merasa tertarik akan hal itu, dan dirimu tidak menyadari sesuatu itu bagaimana eksistensinya, tapi itu melekat dalam jiwamu.
Cinta yang tulus akan mencintai “Tanpa Syarat”, mudah menyukai bagian yang kita suka, tapi dengan hal yang tidak kita sukai itulah kita bisa mendefinisikanya, alih-alih berpegangan tangan dan saling memeluk raga, akan lebih indah sebuah cinta itu jika berisi pengabulan dan doa-doa.
Dari segala langkah kaki yang redup itu, dan dari senyum dengan jutaan luka di punggungnya, akan ada dimana sebuah sujud sebagai bentuk metafora batinias kita berhadapan satu sama lain, dari hati yang paling dalam aku akan merindukan kalian semua.
Dan dari semua yang pernah ada kuucapkan terimakasih kepada orang-orang yang pernah berada disampingku, setiap bekal yang dibawakan, setiap rokok yang disuguhkan, setiap duka dan cita dari semua percakapan yang konstan maupun bukan, setiap cinta yang diberikan, dan untuk semua hal yang berlalu sekali lagi kukatakan dengan rindu yang tak akan pernah bertemu.
Terimakasih selalu...
Anying aku gk disebut
BalasHapus